Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Special Mom's Day, Ibu yang Malang (Penyesalan)


Abby terpuruk dalam diam. Meresapi segala kesedihan yang ada. Kenyataan yang pahit tentang dirinya. Tangisannya tenggelam dalam derasnya hujan. Melarutkan segala sakit hatinya. Mengalir diatas tanah pemakaman, tanah merah yang menyimpan sejuta kenangan tentang dirinya dan ibunya.

Dia tetap terisak dalam aliran hujan. Menyesali semua yang telah ia lakukan. Bentakan itu, pukulan itu, omelan itu, masih terekam jelas dalam memory otaknya. Segalanya tentang ibu dan dirinya. Saat ibunya marah, memukulnya, dan yang terakhir mengusirnya.

Darma, suami yang baru 2 bulan mendampingi hidupnya, menghampiri dan memeluknya.

“Itu sudah takdir”, Hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Darma.

Abby masih terus berlutut di depan nisan bertuliskan ‘RIANTI ANARITA’, ibunya. Yang terakhir terlihat, dia mulai memeluk batu nisan ibunya, hingga ia jatuh pingsan.

****

Tiga jam yang lalu, Abby masih ceria. Setelah turun dari mobilnya, dai dan sumainya langsung menuju ke gang dekat warung kopi. Para penduduk heran dengan kedatangannya. Seorang model yang sedang naik daun dan dikabarkan telah menikah dengan anak dari pengusaha modeling tempatnya bekerja 2 bulan lalu.

Abby terus saja melangkahkan kakinya sambil menggandeng tangan suaminya sambil tersenyum jika bertatap muka dengan orang.

“Nanti kalo aku diusir ibu lagi, mas yang tanggung jawab loh. Aku kan udah bilang kalo ibuku itu gak bener. Dia dulu suka mukulin aku. Oh ya kira – kira keadaan ibu gimana ya? Apa masih kerja kayak dulu?”

Darma hanya mengangkat tanyanya tanda tak tau.

“Kita cuman ngeliat kan? Nyerahin uang ini terus kita pergi. Aku masih takut kalo dipukul lagi… gak usah ngajak dia pindah ke rumah kita ya?”, Dipandangnya suaminya yang masih bergeming. “Mas Darma ngomong dong!”

“Iya sayang. Kita langsung pulang”, Jawab suaminya singkat.

Tak teresa mereka telah sampai di depan rumah bercat pink biru yang sudah mengelupas. Warna yang sama sejak ditinggalnya 3 tahun yang lalu.

“Permisi”, Ucap Abby sambil mengetuk pintu usang itu. Lama sekali, tak ada jawaban. Saat Abby akan mengetuk lagi, pintu tiba – tiba terbuka.

“Ya, cari siapa ya?”, Jawab orang yang membukakan pintu.

“Bi… Bi Yanti! Bi ini Abby bi!”, Sapa Abby girang.

“Abby, ini bener – bener kamu?”, Yanti histeris dan langsung memeluk Abby. “Ini suami mu? Kamu ngetop ya By sekarang… bibi kangen sama kamu”, Ucapnya setelah melepas pelukan.

“Iya bi ini Darma suamiku. Ngomong – ngomong, ibu mana?”

“Ibumu… emh, duduk dulu By, aku ambilkan minum dulu ya? Ayo duduk.”

Abby dan suaminya duduk dalam dia sambil menunggu kedatangan Bi Yanti dari dapur.

“Sayang, ada yang aneh.”, Kata Damar tiba – tiba.

“Aneh apa?”, Tanya Abby bingung

“Maaf ya menungu lama… ini silahkan diminum”, Bi Yanti datang dan langsung menghidangkan teh.

“Ibu mana sih bi? Kok gak keliatan? Apa masih kayak yang dulu? Masih main – main sama laki - laki?”, Tanya Abby lagi

“Abby, jangan ngomong itu.” Yanti memberi jeda, seakan menguatkan jiwanya untuk berkata kembali “Bibi gak kuat ngomong sebenarnya sama kamu, mending kamu baca surat yang ditulis ibumu”, Jawab Yanti sambil menyerahkan surat lusuh itu.

Abby segera membuka surat itu. Semula, wajahnya berkerut tanda tak mengerti, tapi setelah membaca beberapa saat, butiran air mata Abby mulai menetes dan membanjiri pipinya. Sedang Yanti sudah menangis dalam diam.

“Apa maksudnya ini bi? Apa?”, Abby histeris.

“Maaf, aku gak bisa jaga ibumu Abby, surat itu ditulis seminggu sebelum ibumu meninggal dua tahun yang lalu sebelum kamu ngetop By, maaf…”

Damar langsung merebut surat itu dan mulai membacanya.

Abby anakku.
Maafkan aku jika aku tak pernah membuatmu senang. Aku hanya bisa memukulimu disaat aku marah. Maaf Abby, aku tak bisa membuatmu tersenyum dan selalu saja membentakmu dengan kata – kata kotor. Kau tau sendiri kan ibumu ini memang orang yang kotor?

Saat kamu tak ada aku selalu uring – uringan mencarimu. Walau tak ada hasilnya. Yang ada malah dibohongi laki – laki yang katanya ingin membantu aku menemukanmu. Aku disuruhnya dengan paksa melayani teman – temannya tanpa harus dibayar.
Aku khilaf telah mengusirmu malam itu. Pasti kau menyimpan rasa sakit hati itu sampai hati yang terdalam.

Aku memang pelacur Abby, tapi aku juga ingin menjadi ibu, ibu yang baik untukmu, tapi aku merasa tak pantas menjadi ibumu. Dan akupun memukulimu Karena aku tak tau bagaiman cara mengekspresikan kasih sayang itu. Aku hanya tau bagaimana cara membelai laki – laki hidung belang saja.

Kau tau, aku tak mengerti kenapa aku memungutmu dari bawah jembatan saat usiamu 6 tahun. Tapi aku merasa, kau adalah malaikat kecilku yang akan menemani hidupku yang sepi ini. Makanya kau kupanggil Abby, Abby artinya malaikat.
Malaikat kecilku.

Aku ingin memberitahumu, aku tejangkit penyakit. HIV. Karena aku sering bermain dengan laki – laki.

Sebelum aku mati karena penyakit yang menggerogoti tubuhku ini, aku ingin mengucapkan bahwa AKU SANGAT SAYANG PADAMU. Mungkin aku sangat terlambat mengatakannya, tapi aku benar - benar sangat mencintai dan menyayangimu dari lubuk hati. Maafkan ibu Abby, hanya bisa mengatakannya lewat surat.

Maafkan aku Abby…






NB: Sejahat apapun ibu kita, dia tetap manusia terbaik yang pernah diciptakan Allah SWT. meski ia bukan ibu sebenarnya, tapi wanita manapun pasti memiliki sifat keibuan.

NO CHANGE

Disiang yang terik itu aku mengayuh sepedaku menuju tanah kosong dekat taman kota. Aku terus mengayuh dengan cepat. Hatiku gundah, bingung dan gelisah. Ucapan Sisiel terus - menerus terngiang di telingaku. Aku selalu bertanya – tanya dalam hati, apakah yang diucapkan Sisiel tadi benar? Apa dia bisa dipercaya?
Sebuah tanda tanya besar di benakku.
Aku mengayuh sepedaku dengan cepat, kau ingin sampai ke tempat itu. Memastikan hal tersebut. Aku ingin cepat sampai kesana.
Akhirnya sampai, sepedaku berhanti kukayuh. Kulihat Alif berjalan ke arahku. Sendirian. Alif melewatiku.
Ada apa ini?
Apa benar yang dikatakan Sisiel?
“Lif”, Aku memanggilnya dengan suara sedikit serak.
Alif hanya menengok dan tersenym ke arahku lalu berjalan.
Aku tertunduk diam. Ternyata benar.


Y 1 Y
Hari ini aku berangkat diantar kakakku. Ban sepedaku kempes sehabis aku pulang dari tanah kosong kemarin.
Sesampainya di sekolah, aku duduk di bangku taman. Dari kejauhan tampak Erlie manghampiriku dengan raut wajah berseri.
“Hai Dri..”, Sapanya.
Adri, itulah namaku. Lengkapnya Adriana.
“Oh hai juga..”, jawabku. “Kamu kayaknya bahagia banget?”
“Ya… gitu dech.. kemarim aku ditembak sama Alif..”
Deg! Jadi benar!
“Ba...Bagus dong… kamu pasti merima dia…”, Jawabku kagok
. “Seperti yang kau liat…”, Dia tersenyum manis di hadapanku.
Dari kejauhan Alif berjalan menghampiri kami berdua. Aku terdiam, jantungku rasanya copot. Kenapa aku ini? Bukannya ku bahagia melihat temanku punya pasangan? Serasi lagi?
Ya… aku bahagia, apa lagi seorang Alif yang selalu di cap sebagai cowok yang terdingin di sekolah tiba – tiba menembak cewek tercantik di sekolah. Bukan hal yang wajar kan?
Kembali ke cerita.
“Lif, selamat ya.”, Ucapku dengan nada sedikit berat. Lalu kususul dengan seyuman yang agak memaksa. Walau terkesan salting.
Alif hanya tersenyum tipis.
“Yuk sayang kita ke kelas dulu”, Ajak Erlie sambil menggandeng mesra tangan Alif. “Aku sama Alif ke kelas dulu ya?”, Pamitnya padak.
Wajar saja Alif milih Erlie jadi pasangannya. Dia kan cantik, pinter, ketua Cheerleader, berbakat, dan so perfect. Dibandingkan aku?
Ahhhh! Mikir apa aku ini? Impossible is nothing for me?! Bisa sajakan?
Aku beranjak dari dudukku dan berjalan ke kelas. Sampai di koridor depan kelas, aku sedikit melirik ke samping, kelas Alif dan Erlie.
Sangat mesra. Tapi kok yang sering ngomong Erlie? Hus! Mikr apa aku ini! Alif kan memang jarang ngomong?!
Kulangkahkan kakiku ke kelas.

Dalam kelas

“ADRIII!!! Iya kan apa yang aku omongin kemarin?”, Teriak Sisiel.
“Ya”, Jawabku singkat
“Lalu???”
“Lalu apa?”
“Kamu gak bertindak?”
“Bertindak?”
“Iya? Bukannya kamu diduain?”
“Yang diduain siapa?”, Dasar tukang gosip,runtukku dalam hati.
“Ya kamulah..bukannya kamu pacarnya Alif?”
“Sapa yanmg pacaran? Orang aku sama Alif cuma temen”
“Lho bukannya…”
“Eh, bu Apri datang”


Y 2 Y

Sekolah mulai sepi. Hanya anak – anak yang menerima pelajaran tambahan dari guru yang masih bersantai – santai di teman sekolah. Aku masih menunggu jemputan kakakku di depan gerbang sekolah.
Sebuah sepeda menyentuhku dari belakang.
“Hei!”, Sentakku
“Ups, sory”
Alif! Ngapain dia masih disekolah?
“Nunggu mas Darma ya? Nebeng aku aja?”
Bib…bib…bib…
Handphoneku berdering.

1 Message
Received

Dri km plng ma tmn
km aja. Mas g bs
jmpt.

Sender : D@rm4 0’oN

Aku mengumpat dalam hati.
“Gimana?”, Nadanya sedikit memaksa
“Oke, tapi aku terpaksa”
Aku mulai duduk di besi bagian depan jok sepeda. Maklum sepeda cowok.
Alif mulai mengayuh sepeda.



Y 3 Y

“Lif, kamu mau bawa aku kemana? Arah rumahku kan ke kiri?”
“Udah diem aja!”
“Lif!”
“Diem!”, Dia membentakku
Deg!
Untuk pertama kali ini aku dibentaknya. Akupun tediam, terkatup dan lesu.
Sepeda berhenti di depan tanah kosong.
“Turun!”, Suruhnya.
Dia merogoh saku, mengambil handphone dan menelephon seseorang.
“Cepetan ke tanah kosong. Sekarang!”
Telephone terputus.
Aku hanya bisa terdiam.
Sesaat kemudian Erlie datang naik mobilnya. Menghampiri kami dengan sorot mata agak mencurigai kami.
“Ada apa?”, Tanyanya sinis.
“Aku mau ngomong sama kalian berdua”, Jawabnya
Aku terus terdiam. Tidak mengerti apa maksud dari Alif.
“Kami berdua? Muksudnya aku dan Adri?”
“Er, sory kalo aku ngecewain kamu”
“Maksudnya?”
“Biarkan aku ngomong dulu!!!”
Aku masih terdiam.
“Aku udah bohongin kamu. Aku tau kamu suka aku. Buku harianmua nggak sengaja aku buka waktu kamu ke kantin. Waktu ini aku sama anak – anak lagi ngusilin Bagus, lalu… aku nggak sengaja baca diary kamu. Ferdy merampas diary kamu, dan mulai membacanya. Ferdy taruhan aku nggak akan berani nembak kamu. Kalo aku berani aku dapet voucer makan gratis di Oriental.. sory Er, aku Cuma mainin kamu. Kau nggak cinta sama kamu.”
“Lif… kamu itu..”
Plak!
“Jadi kamu milih Adri?”, ucapnya disela dera tangisnya.
Aku kaget. Bingung.
“Adri! Asal kamu tau aja, setelah hal ini aku benci banget sama kamu. Kamu udah bikin hidup aku menderitra”, Sambil menuding ke arahku.
“Apa – apaan sih kamu Lif”, tanyaku bingung.
“Sory Dri, aku nggak bisa cinta sama Erlie, aku cinta dan sanyang Cuma sama kamu.”
“Lif?”
Erlie berlari menuju mobilnya.
“Lif, apa yang kamu katain tadiitu bener?”, Tanyaku ragu.
“Ya.. aku nggak akan berubah. Aku saying kamu.”
Kalimat itu membuatku reflek memeluk Alif.au bahagia, tapiaku juga menyakiti hati Erlie.
“Aku nggak akan berubah, dan selalu menyayangimu.”


THE END